Cara Produktif Menulis Setelah Lama Vakum

Rasa malas dan fase berhenti kemungkinan besar dialami oleh banyak penulis. Alasannya cukup beragam. Ada yang vakum menulis karena kesibukan pekerjaan, mengurus keluarga, kehilangan ide atau karena burnout. Mungkin niat awalnya berhenti hanya sehari, namun kemudian berlanjut sampai berbulan-bulan.

Ketika ingin kembali menulis, ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Ada tantangan baru lagi seperti jari terasa kaku, ide tetap tidak mengalir, bahkan dokumen kosong terasa berat saat dilihat. Akhirnya banyak penulis menyimpulkan mereka sedang tidak mood atau kehilangan inspirasi.

Padahal, hal itu muncul karena adanya perubahan kebiasaan. Sama seperti orang yang lama berhenti berolahraga, ketika ingin mulai berlari lagi badan terasa kaku dan berat. Otak perlu waktu untuk kembali membangun ritme itu.

Bagaimana cara mengembalikan semangat menulis setelah lama berhenti? Kami akan bahas caranya di sini!

Mengapa Sulit Menulis Setelah Sekian Lama Vakum?

Penyebab kesulitan menulis setelah vakum biasanya berasal dari beberapa faktor berikut:

  • Otak Kehilangan Rutinitas

Aktivitas yang dilakukan berulang akan menjadi kebiasaan. Sebaliknya, ketika suatu kebiasaan berhenti dilakukan dalam waktu lama, otak tidak lagi menganggap aktivitas tersebut jadi prioritas.

  • Perfeksionis

Merasa tulisan yang harus ditulis setelah lama vakum adalah karya sebelumnya. Alhasil sering terjadi menghapus sembari menulis atau memperbaiki paragraf sebelumnya yang belum selesai. Atau bahkan dihapus semua karena merasa kualitas tulisan kurang bagus.

  • Takut Tulisan Tidak Sebagus Dulu

Perasaan ini umum terjadi terutama pada penulis yang sudah merasakan tulisannya dibaca banyak orang atau setidaknya sudah menerbitkan buku. Kekhawatiran inilah yang menyebabkan kemampuan menulis dirasa menurun dan akhirnya malas untuk melanjutkan kembali.

Psikolog Carol Dweck lewat buku Growth Mindset menjelaskan kemampuan berkembang lewat latihan, bukan sesuatu yang bersifat tetap. Kesimpulannya, kualitas tulisan akan kembali meningkat bila Anda mulai berlatih lagi.

Cara Membangun Ritme Menulis Kembali

Setelah Anda paham apa penyebab menulis terasa sulit setelah lama tidak melakukannya, sekarang coba untuk mencari cara agar bisa membangun kembali kebiasaan menulis secara bertahap.

  • Mulai dari Target Kecil

Karena sudah lama tidak menulis, membuat target kecil akan terasa lebih mudah dijangkau dan tidak memaksakan diri untuk bekerja terlalu keras. Coba targetnya 200-300 kata setiap hari. 

Dengan target kecil yang mudah tercapai, bisa memberikan rasa berhasil dan akan meningkatkan motivasi untuk menulis kembali keesokan hari.

  • Buat Jadwal Realistis

Kesibukan masing-masing individu pasti berbeda. Tidak semua punya waktu 2 jam untuk menulis. Apabila hanya memiliki waktu 20 menit sebelum bekerja, atau setelah makan malam, manfaatkan waktu itu secara konsisten. Konsisten jauh lebih penting daripada durasi yang panjang.

  • Jangan Banyak Mengedit Di Awal

Kesalahan terbesar penulis adalah mengedit kalimat ketika baru mulai menulis. Akibatnya, proses menulis terasa lambat dan melelahkan. Anda harus memisahkan proses menulis dan mengedit. Selesaikan ide terlebih dahulu, kemudian revisi setelah seluruh draf selesai

  • Siapkan Lingkungan yang Mendukung

Lingkungan punya pengaruh besar terhadap kebiasaan. Karena kita akan terbiasa dan merasa didukung ketika melakukan tindakan tersebut. Misalnya, Anda berusaha menyiapkan meja kerja yang rapi, mematikan notifikasi handphone, membuat secangkir kopi sebagai rutinitas wajib saat menulis. 

Kebiasaan kecil akan membantu otak mengenali kalau sudah melakukan kegiatan tertentu maka sudah tiba waktu menulis.

  • Gunakan Outline

Penulis terkadang berhenti di tengah jalan karena belum tahu atau bingung ingin membahas apa dalam tulisannya. Membuat outline akan sangat membantu untuk mengurangi beban berpikir dan setidaknya memberi gambaran Anda akan membahas apa selanjutnya.

Cukup membuat poin-poin utama yang ingin dibahas, kemudian dikembangkan satu per satu. 

Baca Juga: Strategi Menulis Produktif untuk Jangka Panjang

Kesalahan yang Sering Dilakukan Penulis setelah Vakum

Selain menerapkan kebiasaan baru, ada beberapa kesalahan yang sebaiknya juga dihindari.

  • Punya Target Terlalu Banyak

Semangat menulis kembali bisa jadi terlalu besar sehingga membuat seseorang menetapkan target yang tidak realistis. Bila gagal mencapai target tersebut, motivasi bisa langsung turun. Oleh karena itu, lebih baik menulis sedikit setiap hari daripada langsung banyak tapi mudah berhenti lagi.

  • Membandingkan Dengan Tulisan Lama

Tulisan terbaik akan lahir dari sebuah proses dan biasanya proses yang ditempuh cukup panjang. Setiap kali menulis, akan ada skill yang selalu diperbaiki.

Bisa jadi, membandingkan antara tulisan sebelum dengan pasca vakum akan membuat Anda kecewa. Jadi, cukup fokus pada perkembangan bukan kesempurnaan tulisan.

  • Menunggu Waktu Luang

Sering kali bila ingin memulai sesuatu, banyak yang berkata “nanti kalau sudah punya waktu, saya akan mulai menulis”.

Sayangnya, waktu luang hampir tidak pernah datang dengan sendirinya. Memang harus mengalokasikan waktu dengan cara membuat jadwal waktu menulis seperti Anda menjadwalkan rapat atau aktivitas penting lainnya.

Kesimpulan

Vakum menulis bukan berarti Anda kehilangan kemampuan sebagai penulis. Karena yang hilang biasanya hanya ritme dan kebiasaan yang sebelumnya sudah dimiliki.

Daripada menunggu inspirasi datang, mulailah dengan langkah sederhana. Misalnya buat outline tulisan, menulis satu paragraf, atau luangkan waktu 15 menit setiap hari untuk berlatih. Kebiasaan kecil itu akan berkembang jadi rutinitas yang membuat proses menulis terasa lebih alami.

Pada akhirnya, produktivitas tidak dibangun oleh motivasi sesaat, tetapi karena kebiasaan yang mampu dipertahankan dalam jangka panjang. Semakin Anda konsisten untuk menulis, semakin mudah menemukan lagi rasa percaya diri dan kreativitas yang mungkin sempat hilang.

 

Rujukan

  • Dweck, Mindset: The New Psychology of Success, 2006