Menulis teks nonfiksi dengan benar

Panduan Lengkap Menulis Teks Nonfiksi

Menulis teks nonfiksi butuh lebih dari sekadar paham tentang pengertiannya. Anda juga perlu paham bagaimana cara menulis teks nonfiksi yang benar, dengan langkah-langkah menulis yang sistematis agar informasi mudah dipahami dan bermanfaat. Prosesnya sendiri berupa menentukan topik, mengumpulkan data, hingga menyusunnya jadi tulisan yang runut dan berbasis fakta.

Pada artikel ini, akan membahas cara menulis teks nonfiksi secara khusus. Simak hingga akhir untuk memahami bagaimana cara menulis nonfiksi yang baik.

Pengertian Umum Teks Nonfiksi

Teks nonfiksi merupakan jenis tulisan yang didasarkan pada peristiwa nyata dan data yang bisa dipertanggung jawabkan. Poin penting dalam tulisan ini adalah tulisan bisa menjelaskan data dan fakta. Anda bisa memahami lebih dalam terkait teks nonfiksi pada artikel kami lainnya.    

Langkah-langkah Menulis Teks Nonfiksi

Membuat teks nonfiksi membutuhkan langkah-langkah yang sistematis, terutama jika berkaitan dengan riset topik tulisan. Namun, saat mengembangkan tulisan penulis bisa sedikit melonggarkan diri dengan memperhatikan alur, gaya bahasa, dan unsur lainnya. 

1. Mencari ide topik

Proses menemukan ide dapat dilakukan dengan brainstorming terlebih dahulu. Anda bisa coret-coret menggunakan kertas atau notes di HP. Tuliskan ide tentang bidang yang Anda geluti dan minati selama ini. Di fase ini, Anda cukup menuliskan ide–terlepas nantinya akan memakai idenya atau tidak. Jadi, tidak perlu ragu, ya. 

Setelah ide-ide terkumpul, langkah selanjutnya tentukan satu topik yang ingin dibahas. Perhatikan juga siapa audiens yang nantinya akan membaca buku Anda (apakah anak muda, ibu-ibu, golongan usia tertentu, market profesi tertentu, dan lain sebagainya). Ini adalah langkah penting sebelum mengembangkan tulisan ke depannya. 

2. Melakukan Riset Mendalam

Bahan utama dari tulisan nonfiksi adalah data. Oleh karena itu, semakin banyak hasil riset maka semakin kompleks bahan yang bisa Anda olah. Mulai dari membaca jurnal, koran, buku, atau melakukan wawancara sebagai proses riset mendalam. 

Sebetulnya, data pendukung bisa dicari lagi ketika di tengah proses menulis, karena tidak jarang ada beberapa poin yang perlu dikembangkan lagi. Namun, saran kami tuntaskan sebagian besar proses riset saat sebelum menulis. Harapannya, agar saat menulis Anda tidak banyak terdistraksi. Tidak jarang, penulis bahkan tenggelam dalam riset hingga melupakan laptopnya yang menunggu terbuka kembali.  

3. Menyusun Kerangka Tulisan

Saat data sudah terkumpul, Anda sudah bisa membuat kerangka tulisan yang terdiri dari bab dan subbab. Bagian bab akan menjadi bahasan utama dan subbab menjadi bahasan pendukungnya. Agar lebih mudah, bagi bab-bab tersebut ke dalam 3 struktur sederhana yang sudah dibahas sebelumnya. 

4. Menentukan Gaya Bahasa

Gaya bahasa adalah unsur yang tidak kalah penting dalam tulisan. Pemilihan gaya bahasa menyesuaikan dengan topik tulisan, target audiens, dan tujuan buku itu sendiri. Tipsnya, coba Anda cari buku nonfiksi dengan tema serupa. Apakah ada gaya penulisan yang nyaman, enak, dan mudah dimengerti? Anda bisa melakukan ATM (amati, tiru, modifikasi) untuk pengembangan gaya bahasa. 

5. Menulis Naskah Mentah

Kembangkan informasi dan data yang ada menjadi narasi nonfiksi sesuai dengan kerangka tulisan yang telah Anda buat sebelumnya. Ingatlah untuk menggunakan bahasa yang informatif, tidak ambigu, dan dapat dipertanggungjawabkan.

Di tahap ini, fokus saja untuk menulis. Jangan berhenti untuk urusan revisi. Kita sisihkan untuk tahap selanjutnya. 

6. Swasunting

Setelah selesai menulis, beri waktu untuk rehat beberapa hari atau sekitar satu pekan. Ambil jeda, lakukan aktivitas lain yang menyenangkan. Setelah itu, baru buka kembali laptop Anda. Lakukan pembacaan kembali, koreksi tulisan mulai dari segi teknis (ketepatan EYD, urutan bab, dan sebagainya). 

Anda juga bisa melengkapi bagian buku seperti membuat daftar isi, daftar gambar, daftar tabel, pendahuluan, isi, daftar pustaka, dan profil penulis. Apabila ada beberapa istilah yang tidak umum, Anda bisa membuat daftar kata sehingga bisa memudahkan pembaca mengetahui makna istilah tersebut.

7. Menentukan Judul Buku

Judul adalah bagian pertama yang diperhatikan calon pembaca. Sedikit tips, buatlah judul dengan diksi yang mewakili isi naskah dan bisa mengundang rasa penasaran.

Baca Juga: 5 Dasar Penulisan Buku Nonfiksi

Kesalahan umum dalam Menulis Teks Nonfiksi

Agar kualitas tulisan nonfiksi meningkat dan menghindari kesalahan. Anda perlu tahu kesalahan apa saja yang sering terjadi:

  • Mencampur fakta dengan opini pribadi
  • Topik bahasan terlalu luas
  • Struktur berantakan 
  • Tidak menuliskan sumber data

Karena akan menulis tulisan yang berbasis fakta dan data. Maka Anda perlu memperhatikan detail-detail penting. Agar karya yang dihasilkan bisa dipertanggungjawabkan.

Kesimpulan

Memahami proses menulis teks nonfiksi secara bertahap, bisa membantu menyempurnakan tulisan yang Anda hasilkan. Dengan topik yang jelas, data yang valid, dan struktur tulisan yang rapi, Anda bisa menghasilkan teks nonfiksi yang lebih mudah dipahami dan bernilai bagi pembaca.

Kalau Anda ingin belajar secara langsung bersama ahlinya, kami memiliki kelas pendampingan menulis untuk buku nonfiksi. Silahkan menghubungi kami lewat whatsapp untuk bertanya untuk informasi lengkapnya, atau ikuti update terbaru kami lewat instagram Tinta Langit.