Ada banyak hal yang perlu Anda perlu perhatikan dalam menuliskan cerita fiksi. Salah satu pondasi utamanya adalah struktur cerita. Mengaplikasikan struktur pada cerita yang dituliskan dengan benar bisa menentukan apakah cerita fiksi terasa menarik atau malah jadi membingungkan. Dengan struktur fiksi yang tepat, tulisan menjadi rapi, tidak ada lompatan logika sehingga mudah dipahami pembaca.
Apabila Anda sempat membaca cerita yang terasa effortless dan nyaman dibaca sampai habis, kemungkinan besar penulis cerita memahami struktur tertentu yang harus digunakan ketika menulis. Agar bisa menghasilkan cerita fiksi dengan baik, artikel ini akan menjelaskan struktur cerita fiksi secara lengkap beserta contohnya agar mudah Anda pahami dan diaplikasikan.
Struktur Cerita Fiksi Secara Umum
Struktur cerita fiksi memiliki fungsi sebagai kerangka yang bisa membantu penulis menyusun alur cerita dengan lebih logis, rapi, dan menarik. Layaknya kerangka yang membangun jalan cerita dari awal hingga akhir. Umumnya, struktur cerita fiksi sendiri terdiri atas:
Orientasi
Merupakan bagian awal dari cerita yang berisi perkenalan latar cerita pada pembaca seperti tokoh, latar tempat, latar waktu, situasi, dan hubungan antar tokoh.
Bagian ini sangatlah penting karena menjadi fondasi untuk keseluruhan cerita. Apabila bagian ini kurang dijelaskan dengan benar, maka pembaca bisa kesulitan memahami konteks cerita.
Biasanya, orientasi akan menjawab beberapa pertanyaan dasar:
- Siapa tokohnya?
- Di mana peristiwanya?
- Kapan cerita berlangsung?
- Apa kondisi yang dialami tokoh?
Contoh orientasi sendiri adalah sebagai berikut:
| Di suatu rumah kecil di gang sempit daerah perkotaan Jakarta, hiduplah seorang remaja bernama Nara yang sangat suka dengan dunia fotografi. Setiap pagi hari dia harus berjualan makanan di pinggir jalan. Diperjalanan menuju tempat dia berdagang, Nara selalu mengambil foto-foto dari benda yang dilihat. Suasana di jalan, pohon rindang, kucing, semua hal dia foto lalu mengunggahnya ke sosial media.
Kalau ditelaah, kita bisa melihat beberapa unsur orientasi
- Tokoh: Nara
- Tempat: Jakarta
- Waktu: Pagi hari
- Situasi: perekonomian susah dengan hobi fotografi
Orientasi yang baik biasanya tidak terlalu panjang namun bisa menjelaskan keadaan dan memberi gambaran pada pembaca.
Komplikasi
Komplikasi adalah tahap saat konflik mulai muncul dalam cerita. Konflik akan jadi penggerak utama alur cerita dan membuat audiens tertarik untuk membaca kejadian selanjutnya.
Konflik sendiri dapat berupa:
- Konflik antartokoh, bisa antara dua tokoh atau lebih
- Konflik dengan lingkungan, tokoh bisa mengalami tantangan dari alam atau situasi sekitar
- Konflik batin, tokoh punya pergulatan perasaan atau kesulitan dalam mengambil keputusan
Contoh komplikasi sendiri seperti berikut:
| Suatu hari, tiba-tiba ponselnya jatuh begitu saja—bunyi retaknya membuatnya langsung diam.Layar itu berkedip beberapa saat. Lalu redup perlahan.
Langit tiba-tiba terasa berubah jadi kelabu. Malam ini seharusnya jadi kesempatan terakhirnya berburu foto untuk lomba. Tapi tanpa ponsel dan tanpa uang untuk memperbaikinya, kesempatan itu hilang di depan mata.
Dari contoh di atas, konflik yang mulai ditunjukkan adalah HP yang digunakan untuk memotret rusak, uang yang dia miliki pas-pasan dan sedang dalam kesempatan mengikuti perlombaan.
Klimaks
Adalah puncak konflik pada cerita. Di tahap ini masalah pada cerita ada di titik paling parah. Ciri utama klimaks adalah seperti berikut:
- Ketegangan cerita di puncak
- Tokoh harus mengambil keputusan penting
- Situasinya yang lebih dramatis
Hal ini jadi bagian paling berkesan & penting dalam sebuah cerita karena menentukan arah selesainya cerita.
Contoh dari klimaks sendiri adalah sebagai berikut:
| Hari-hari berikutnya ia mencoba menyisihkan uang dari hasil berjualan. Tapi setiap kali ada yang terkumpul, selalu ada yang lebih dulu menunggu: beras yang menipis, kebutuhan rumah yang tidak bisa ditunda.
Hari terakhir.
Ia hampir menutup semuanya, sampai satu nama terlintas: Budi. Dengan layar ponsel yang retak, ia menekan tombol panggil.
“Bud, kamu masih punya kamera yang bisa disewa malam ini?”
“Masih. Tersisa 1 kamera saja nara.”
Nara terdiam. Uang itu seharusnya untuk makan besok pagi.
Jam bergerak lagi. Ia menarik napas panjang.
“Aku ambil.”
Telepon ditutup. Ia meraih jaketnya dan melangkah keluar. Malam belum sepenuhnya terlambat—dan kali ini, ia memilih untuk tidak melewatkannya.
Mengapa dalam contoh bisa disebut klimaks?
Karena terdapat bagian-bagian ini:
- Nara sudah berusaha mengumpulkan uang tapi tidak bisa mengumpulkannya sesuai dengan keinginan
- Nara berada di waktu & kesempatan terbatas, ingin ikut lomba tapi keadaan tidak mendukung
- Nara harus membuat keputusan, apakah dia memilih untuk bertahan hidup dengan uang seadanya atau mengikuti lomba dengan segala keterbatasan.
Jadi pembaca akan penasaran, apakah klimaks cerita bisa diselesaikan oleh tokoh utama atau tidak.
Resolusi
Resolusi adalah bagian dimana konflik yang sudah digambarkan mulai bisa diselesaikan. Dan akhir sebuah cerita tidak selalu bahagia, tetapi bisa juga berakhir kurang menyenangkan. Beberapa bentuk resolusi sendiri adalah:
- Happy ending
- Sad ending
- Open ending
Namun, pada umumnya cerita seperti dongeng, cerita anak, atau beberapa cerita lainnya dibuat berakhir bahagia. Akhir sebuah cerita juga penulis yang bebas menentukannya.
Contoh resolusi cerita adalah sebagai berikut:
| Nara akhirnya memberanikan diri untuk sewa kamera agar bisa menghasilkan hasil terbaik, sembari meminta bantuan temannya itu untuk mengumpulkan karya yang dia buat. Budi dengan senang hati membantunya, bahkan meminjamkan kameranya secara gratis pada Nara. Disaat itu nara merasa sangat bersyukur karena masih bisa menemukan kemudahan di keadaannya yang dirasa tidak mungkin.
Koda
Bagian penutup dari cerita, biasanya semua masalah telah terselesaikan di bagian ini. Ada pesan moral & pelajaran penting yang bisa diambil dari cerita. Fungsi koda sendiri adalah sebagai berikut:
- Menyampaikan amanat cerita
- Memberi refleksi
- Menengahkan moral cerita
Contoh:
| Budi sudah menunggu di depan pintu. Kamera itu langsung ia serahkan begitu saja.
Nara sempat menyodorkan uang, tapi Budi menggeleng.
“Pakai aja.”
Nara terdiam sejenak, lalu menggenggam kamera itu erat.
Malam belum berakhir—dan kali ini, ia tidak datang dengan tangan kosong.
Pentingnya Memahami Struktur FIksi
Dalam menulis fiksi, mengapa kita perlu memahami struktur fiksi dengan benar? Dengan memahami struktur fiksi sendiri sendiri, Anda bisa:
- Menyusun cerita yang lebih terarah
- Membuat alur cerita jadi lebih menarik & punya konflik yang kuat
- Memudahkan pembaca memahami cerita yang dibuat
- Membantu analisis karya untuk meningkatkan kualitas tulisan
Anda bisa menggunakannya sebagai panduan disetiap Anda menulis. Sehingga Anda bisa menciptakan karya terbaik.
Kesimpulan
Struktur cerita fiksi perlu dipahami oleh penulis agar tulisan yang dihasilkan terasa enak dibaca dan mempermudah membangun jalan cerita dari awal hingga akhir. Terdiri dari orientasi, komplikasi, klimaks, resolusi, dan koda.
Bila penulis dapat menerapkan struktur cerita fiksi dengan benar, cerita bisa disampaikan secara runtut dan perkembangan konflik dalam cerita juga terasa hidup. Tidak terlalu informatif seperti tulisan nonfiksi, tapi penuh imajinasi yang berkesinambungan sehingga terbentuk cerita yang menarik.
Apabila Anda ingin memahami struktur nonfiksi lebih dalam dan memiliki teman diskusi secara langsung, kami memiliki kelas belajar menulis fiksi/novel. Bersama pemateri berpengalaman dan juga pendamping profesional, Anda bisa belajar & bertanya secara langsung tentang apa pun yang sedang Anda pelajari. Disini Anda juga bisa memperoleh koneksi baru untuk saling berdiskusi dan bertukar pikiran.



