Menulis Produktif dengan setting suasana yang menenangkan

Strategi Menulis yang Produktif & Efektif

Kegiatan menulis sering kali disepelekan karena terlihat mudah. Aktivitas menuangkan ide abstrak menjadi kata-kata pada lembar kosong tampak seperti kegiatan sederhana. Padahal, banyak penulis yang stuck saat hendak merangkai kata. Alhasil, menulis terasa sangat menyiksa. Dari yang awalnya hobi berubah jadi tragedi.

Mengapa sering stuck saat menulis? 

Ada beberapa faktor yang memengaruhi. Salah satunya karena rasa frustasi. Ringkasnya, stres saat menulis bisa membuat semangat dan kreativitas menurun. Pemicu stres juga bermacam-macam. Mulai dari mengejar kesempurnaan tulisan, ingin konsisten menulis tapi gagal, naskah terus menumpuk tapi tidak terselesaikan, dan lain sebagainya. Penulis seperti berada di lingkaran setan yang mengerikan. 

Semua hal tersebut perlu diatasi secepatnya agar tidak semakin parah. Yuk ketahui lebih lanjut strategi menulis yang produktif. Agar menulis kembali menjadi kegiatan menyenangkan dan draft Anda bisa tuntas!

Hal-Hal Penting yang Perlu Diperhatikan dalam Menulis 

 

  • Kemampuan Bahasa: Pondasi Utama Menulis

Bahasa merupakan alat utama penulis. Mulai dari kosakata, tata bahasa, ejaan, dan penalaran verbal. Kemampuan Anda akan terlihat ketika menulis kalimat, menggunakan tanda baca hingga membuat paragraf yang logis dan enak dibaca. 

Untuk meningkatkan aspek ini, Anda perlu membaca banyak buku sebagai referensi.  Perbanyak juga pengalaman menyampaikan ide secara lisan maupun tulisan. Aktivitas tersebut melatih Anda terbiasa menerjemahkan konsep abstrak di dalam kepala menjadi rangkaian kalimat yang lebih tertata sehingga dapat dipahami oleh orang lain.

  • Pahami Alasan Anda Menulis

Pahami kembali motivasi Anda menulis. Apakah Anda menulis untuk memberi manfaat ke sekitar atau hanya ingin menyalurkan emosi pribadi. Alasan Anda akan menjadi kompas saat Anda mulai tidak semangat melanjutkan tulisan. 

Menurut Simon Sinek dalam bukunya Start With Why, orang yang tahu alasan mendasar dari apa yang ia lakukan akan memiliki dorongan kuat untuk terus melakukannya. Bahkan saat menghadapi tantangan yang sulit. Sehingga menemukan dan memahami alasan Anda menulis akan menumbuhkan motivasi yang konsisten agar bisa mencapai garis finish.

Ketika alasan untuk memulai sudah jelas bagi penulis, maka pesan yang disampaikan akan terasa lebih meyakinkan. Dengan demikian, pembaca bisa merasakan jiwa dari kalimat yang ditulis. Pada akhirnya, terbangunlah keterhubungan secara emosional antara penulis dan pembaca lewat tulisan.

  • Organisasi Pikiran agar Terstruktur

Menulis tanpa struktur sama seperti sedang menyetir tapi buta arah. Ini akan menyebabkan Anda cepat lelah, kebingungan, dan mandek di tengah jalan karena banyak energi yang terbuang.

Ada beberapa cara untuk membuat struktur tulisan. Pertama, cobalah untuk membuat kerangka tulisan dari paragraf satu ke paragraf lain dengan menuliskan ide utamanya saja. Kedua, Anda bisa membuat kerangka per-bab dengan menulis poin pembahasan. Cara tersebut akan membantu Anda menulis dengan alur yang jelas dan meminimalisasi kebingungan sehingga bisa lebih produktif.

Baca Juga: Cara Mudah Menulis Fiksi untuk Pemula

Empat Strategi Menulis yang Efektif

 

Menulis Produktif dengan setting suasana yang menenangkan
Sumber: Pixabay

Saat menulis, terdapat beberapa tahapan yang bisa Anda gunakan. Harapannya Anda tidak membuang-buang waktu karena terlalu lama stuck. Berikut ini langkah-langkah yang bisa Anda terapkan:

1. Persiapan Ide (Prewriting)

Pada tahap ini, semua ide yang Anda miliki–baik ide lama maupun ide baru–perlu Anda tuliskan tanpa disaring. Catat ide dari yang masuk akal bahkan yang nyeleneh sekali pun. Tujuan di tahap ini adalah membiarkan kreativitas bekerja tanpa batas. 

Tahap ini sering kali diabaikan karena penulis merasa sudah cukup dengan punya satu atau dua ide. Padahal, dalam mengembangkan tulisan diperlukan ide-ide lain nantinya. Proses ini dapat mencegah kebingungan saat proses menulis berlangsung.

2. Penulisan Draf

Pada tahap ini, cobalah untuk menulis secara berurutan mulai dari bab 1 hingga seterusnya. Menulis draf adalah tempat di mana Anda bisa menuangkan isi pikiran sepenuhnya tanpa memikirkan hasil yang sempurna. 

Dengan cara ini, Anda akan lebih fokus. Karena banyak dari penulis yang terjebak pada kebingungan memulai tulisan. Alhasil, semakin lama penulis kehilangan semangat.

3. Pengembangan Isi Paragraf

Saat mengembangkan paragraf, perhatikan kembali setiap ide pokok pada masing-masing bab. Kemudian detailkan setiap ide utama menggunakan kalimat pendukung. 

Pada dasarnya, ide pokok bisa berada di awal, tengah, maupun akhir tulisan. Anda bisa menyesuaikan susunannya, di mana bagian ide pokok dan penjelas. Selain itu, perhatikan jumlah kalimat dalam satu paragraf. Biasanya, satu paragraf terdiri atas 3–5 kalimat saja. Hal itu untuk menghindari kejenuhan dalam membaca.

4. Revisi & Editing

Tahapan akhir setelah Anda menuangkan semua ide adalah revisi dan editing. Paragraf yang sudah ditulis harus direviu untuk memperbaiki kesalahan penulisan seperti typo, kesalahan tanda baca, kalimat yang tidak efektif atau flow tulisan yang kurang nyaman saat dibaca. Hasil reviu kemudian diperbaiki hingga dirasa layak untuk diterbitkan.

Sebelum melakukan proses edit, ambillah jeda beberapa hari setelah menulis. Tujuannya, otak cenderung lebih objektif bahkan memiliki perspektif baru saat membaca ulang tulisan. Anda juga bisa meminta bantuan orang lain untuk memberi masukan agar hasil reviu lebih netral.

Baca juga: Panduan Lengkap Dasar Penulisan Buku Nonfiksi

Tips Agar Menulis Produktif Setiap Hari

Ini dia beberapa tips yang bisa Anda ikuti agar semakin produktif menulis dan mencegah draf tulisan Anda menumpuk:

1. Buat Jadwal & Rutinitas Harian

Kunci produktivitas adalah konsistensi. Cobalah membuat jadwal menulis rutin setiap hari sesuai dengan waktu terbaik Anda menulis. Walaupun dalam sehari jumlah kata yang ditulis sedikit, itu lebih baik daripada tidak ada tulisan sama sekali. Setidaknya setiap hari ada paragraf atau kalimat yang bertambah di draf Anda.

Anda bisa membuat target harian yang realistis. Gunakan tools reminder untuk membantu membangun kebiasaan ini. Contohnya, Anda bisa memasang alarm menulis di jam tertentu. Di tahap ini, fokuslah terhadap kuantitas. 

2. Jangan Mengedit Saat Menulis Draf

Sering kali penulis merasa gemas untuk mengedit tulisan saat proses menulis masih berlangsung. Padahal, ini bisa mengganggu ritme tulisan yang sudah Anda bangun. Selain itu, distraksi akibat editing sambil menulis dapat membuat Anda kebingungan sehingga berujung stuck

Anda masih mempunyai kesempatan mengedit tulisan setelah proses menulis berakhir. Maka, fokus untuk menulis dahulu, editing kemudian. 

3. Istirahat Berkala

Setiap orang memiliki waktu istirahat dan beraktivitas terbaiknya. Gunakanlah waktu tersebut dengan baik agar tubuh tetap sehat. Dampaknya, otak pun bisa bekerja dengan optimal sehingga ide-ide kreatif terus berdatangan.

Saat proses menulis Anda juga perlu melakukan jeda sejenak. Lakukan peregangan ringan setiap 30–40 menit sekali agar badan rileks kembali. Refreshing juga bisa dilakukan dengan mengganti suasana tempat menulis atau mendengarkan musik yang membuat lebih fokus. Terkadang saat diri lebih rileks, ide justru muncul berhamburan dari mana saja. 

4. Gunakan Metode Pomodoro untuk Menjaga Fokus

Pomodoro merupakan metode manajemen waktu dengan membagi menit-menit bekerja dalam keadaan fokus dan menit lain untuk istirahat. Misalnya, Anda memutuskan sehari menulis selama 120 menit. Kemudian Anda membagi waktu menulis tanpa distraksi selama 25 menit. Setelah itu, Anda mengambil beristirahat selama 5 menit. Pola tersebut Anda ulangi hingga akumulasi 120 menit menulis dalam sehari tercapai. 

Metode ini bermanfaat untuk meningkatkan fokus, mengurangi kelelahan menta,l serta dapat membangun kebiasaan menulis yang berkelanjutan. Pastikan Anda jauh dari hal–hal yang membuat Anda terdistraksi agar metode ini bisa berjalan dengan baik.

5. Ciptakan Suasana Terbaik Menulis

Suasana dan waktu yang tepat akan meningkatkan produktivitas menulis. Ada yang suka menulis di pagi hari, tapi ada yang lebih memilih di malam hari ditemani dengan lilin aroma terapi. Setiap penulis memiliki waktu produktifnya masing-masing. Pilih waktu terbaik menurut Anda.

Tempat untuk menulis juga bisa memengaruhi produktivitas. Ada penulis yang membutuhkan kesunyian. Namun, ada juga yang lebih enjoy di tengah keramaian seperti di kafe. Apa pun itu, Anda perlu menemukan pola kenyamanan yang cocok sehingga kreativitas mengalir dengan baik dan semangat berkarya akan terus ada.

Menjadi penulis yang produktif bukan soal seberapa cepat menyelesaikan tulisan, tetapi ini tentang bagaimana membangun kebiasaan agar disiplin menulis. Dengan konsisten menulis, Anda akan terbiasa dengan proses eksplorasi ide, pengembangan gagasan, hingga revisi berulang kali. Terlepas itu semua, semoga dari konsistensi lahirlah perasaan bahwa menulis adalah aktivitas yang dirindukan karena menyenangkan. Sebab, seperti kata orang-orang, “cinta datang karena terbiasa.”

Baca Juga: Apa itu Teks Nonfiksi?

Ingin belajar menulis buku?

Kami memiliki program Book Writing Camp. Kelas ini berlangsung selama 2 bulan secara daring. Anda akan diajari oleh ahli mulai dari pengetahuan dasar hingga cara-cara teknis menulis buku. Tidak hanya itu, kelas ini juga menyediakan tugas untuk Anda berlatih setiap harinya. Setelah itu, akan ada bonus reviu terhadap tulisan Anda sebagai bahan perbaikan ke depannya. 

Tertarik bergabung ke kelas kami? Hubungi kami via WhatsApp atau kunjungi instagram Tinta Langit untuk mengetahui info kelas selanjutnya! 

Rujukan:

Simon Sinek. Start With Why