reProses menulis, kebiasaan, budaya, serta lingkungan akan sangat mempengaruhinya. Hal itu tercermin dari hasil tulisan yang khas dari setiap penulis. Namun, tidak peduli seberapa berpengalaman seorang penulis, hampir semuanya pernah membuat kesalahan umum menulis, utamanya di awal perjalanan menulisnya.
Agar proses menulis bisa berkembang dengan optimal maka ada baiknya mengenali apa saja kesalahan umum menulis yang kerap pemula lakukan. Semakin awal menyadarinya, semakin efektif Anda memanfaatkan waktu sehingga bisa menghasilkan tulisan yang lebih baik. Yuk, pelajari kesalahan menulis yang sering dilakukan berikut ini.
5 Kesalahan Umum Menulis
Ada lima kesalahan menulis yang sering dilakukan:
1. Gaya Bahasa yang Tidak Sesuai
Gaya bahasa berpengaruh terhadap bagaimana pembaca bisa menerima suatu pesan dengan baik. Sangat penting untuk memperhatikan siapa target pembaca dari tulisan yang dibuat. Dengan begitu penulis dapat menyajikan tulisan sesuai pembaca lewat memilih jenis karya serta gaya bahasa.
Pemilihan jenis tulisan tidak bisa disepelekan. Misalnya, jika menulis karya tulis ilmiah sebaiknya menggunakan bahasa yang formal dan istilah penunjang sesuai bidang keilmuan. Sementara, saat menulis novel akan sesuai bila menggunakan bahasa sehari-hari yang santai lebih. Khusus untuk novel, penulis perlu melihat usia target pembaca, karakteristik cara berpikir pembaca remaja dengan dewasa, point of view dan gaya bicara.
2. Kesalahan Tata Bahasa & Tanda Baca
Tidak jarang penulis melakukan kesalahan seperti penggunaan tanda koma yang tidak sesuai, kalimat rumpang, atau struktur yang berantakan. Akibatnya, pembaca akan sulit memahami gagasan di dalam tulisan. Hal itu karena kesalahan tata bahasa dan tanda baca dapat mengubah makna suatu kalimat. Kondisi tersebut dapat mengganggu pengalaman membaca bahkan menurunkan kredibilitas tulisan.
3. Penggunaan Kalimat yang Berulang (Redudansi)
Paragraf lumrahnya memiliki satu ide utama dan kalimat penjelas sebagai pelengkapnya. Namun, sering kali ditemukan paragraf dengan kalimat bertele-tele. Hal itu bisa menghilangkan daya tarik pembaca karena menyebabkan efek jenuh dan menghilangkan fokus.
Baca Juga: Personal Branding untuk Penulis
4. Plagiarisme Tanpa Disadari
Karya yang masuk kategori plagiat tidak hanya tentang menyalin secara utuh karya orang lain. Tetapi, mengutip frasa tanpa memberi keterangan sumber referensi. Pada dasarnya, terinspirasi oleh karya lain merupakan hal lumrah. Namun, tugas penulis tidak sekadar copy-paste referensi, melainkan mengembangkannya untuk menunjang gagasan naskah.
5. Plot Hole dalam Tulisan
Penulis sering kali tidak menyadari adanya plot hole dalam tulisan yang dibuat baik untuk tulisan fiksi atau nonfiksi. Biasanya, plot hole atau lubang cerita akan terlihat ketika tulisan dibaca ulang. Ketika itulah tampak ada kejanggalan antara satu bagian dengan bagian lainnya. Entah idenya yang tiba-tiba berubah atau ada hal yang belum terjelaskan dengan baik sehingga menimbulkan tanda tanya pembaca.

Tips Menghindari Kesalahan Menulis
Setelah sebelumnya membahas kesalahan-kesalahan menulis. Untuk menghindarinya, cobalah beberapa tips berikut ini:
Baca Referensi dari Buku Lain
Apabila Anda penulis novel maka membaca novel orang lain adalah suatu kebutuhan. Membaca dan menggunakan semakin banyak referensi, semakin banyak Anda menabung berbagai gaya bahasa, diksi, bahkan ciri khas penulis ketika menggambarkan peristiwa. Hal itu akan lebih memudahkan Anda untuk menemukan gaya bahasa yang sesuai ketika menulis novel.
Pecah Kalimat yang Panjang
Satu paragraf biasanya mengandung sekitar 3–5 kalimat. Di luar itu, pembaca membutuhkan energi lebih untuk menjaga fokus. Saat proses menulis, sebaiknya Anda sudah menentukan satu ide pokok di setiap paragraf. Dengan mengacu pada ide pokok, Anda akan lebih terkontrol ketika mengembangkannya ke dalam kalimat penjelas.
Swasunting
Draf pertama pasti tidak sempurna. Oleh karena itu, ada proses swasunting setelah menulis. Pisahkan proses menulis dan editing. Apabila saat menulis tiba-tiba Anda berbelok mengedit tulisan maka proses kreatif seketika terhenti. Lebih baik, tandai saja bagian yang dirasa “gatal ingin diedit” lalu lanjutkan proses menulis. Nantinya, saat fase swasunting Anda bisa mengedit secara tata bahasa maupun substansi naskah.
Baca Juga: Strategi Produktif dalam Menulis
Untuk memperbaiki tulisan. Karena penulis tak ubahnya seorang koki: sama-sama meracik bahan menjadi hidangan terbaik yang siap dinikmati!
Apabila Anda membutuhkan komunitas yang bisa membantu dalam menyelesaikan naskah impian, Tinta Langit menyediakan berbagai kelas pendampingan menulis. Terdapat writing coach hebat yang sudah berpengalaman membimbing ribuan calon penulis.
Yuk, ikut kelas pendampingan menulis bersama Tinta Langit. Naskah selesai hingga siap terbit! Hubungi kami via WhatsApp atau kunjungi instagram kami untuk mengetahui info kelas selanjutnya!



