Menulis Buku untuk Pemula

Cara Menulis Buku untuk Pemula: Langkah Menulis yang Benar

Memiliki buku yang ditulis sendiri mungkin jadi mimpi sebagian orang. Namun, sering kali menulis kalimat pertama saja jadi tantangan besar untuk pemula. Padahal, semua karya yang lahir juga dimulai dari selembar kertas kosong yang ditulis berkala dari satu halaman ke halaman berikutnya.

Terkadang, rasa frustasi ketika menulis membuat kita berpikir: apakah harus punya background sastra untuk menjadi penulis? Faktanya, banyak penulis yang jauh dari jurusan sastra secara akademis. Asma Nadia, seorang novelis dengan 112 karya, sempat masuk bangku kuliah Fakultas Teknologi Pertanian. Andrea Hirata, penulis Laskar Pelangi tersebut merupakan lulusan di bidang ekonomi. Di sisi lain, ada juga Raditya Dika dengan S1 Ilmu Politik dan S2 mengambil ilmu finance

Artinya, siapa pun bisa mempelajari keterampilan menulis. Jika saat ini yang Anda rasakan adalah ide sulit dicari, bingung cara menuliskan pikiran abstrak ke dalam tulisan–percayalah Anda tidak sendiri. Para penulis profesional juga mengalami hal ini. Anda hanya perlu menemukan pintu solusinya.

Kalau Anda masih bingung bagaimana cara mulai menulis buku simak artikel ini hingga selesai, ya!

Langkah Awal Menulis Buku untuk Pemula

Menulis itu ibarat sedang membangun rumah dari nol. Anda membutuhkan ukuran tanah, desain bangunan, menyiapkan peralatan, kemudian membangun secara bertahap mulai dari pondasi hingga bagian atap. Oleh karena itu, ada kegiatan pramenulis sebelum “naskah dibangun.”

A. Pramenulis

  • Tentukan Tujuan Menulis Buku

Setiap orang memiliki motivasi yang menggerakkannya menulis. Ada yang menulis karena dorongan emosional seperti perasaan resah, gelisah, marah, tidak terima, sedih, dan sebagainya. Ada juga yang menulis dilandasi oleh keinginan: ingin meninggalkan warisan, menebar kebaikan, sharing keilmuan, dan masih banyak lagi. Apapun alasannya, itu sah-sah saja. Temukan alasan dan tujuan Anda menulis. Ini menjadi bahan bakar sekaligus kompas pertama yang melahirkan langkah berikutnya.

Contoh, Anda ingin menulis untuk sharing ilmu. Lalu, secara spesifik keilmuan apa yang akan dibagikan? Lantas, permasalahan apa yang akan Anda selesaikan melalui ilmu yang Anda tuangkan ke dalam buku? 

Output dari tahap ini adalah Anda tahu mengapa dan apa yang akan ditulis

  • Tentukan Jenis Buku

Jika sudah menemukan ide tulisan, selanjutnya pilih jenis buku yang akan Anda tulis. Apakah ingin menulis novel, buku motivasi, biografi, atau buku panduan. Hal ini butuh Anda lakukan agar tahu bagaimana format hingga gaya bahasa yang perlu Anda sajikan. 

Di tahap ini, Anda sudah memutuskan jenis buku yang akan ditulis. 

  • Kumpulkan Referensi

Sebelum menulis, coba cari buku bertema serupa dengan ide Anda. Pelajari referensi tersebut membahas apa saja, bagaimana susunan kalimatnya, dan lain semacamnya. Di tahap ini tugas Anda adalah mencari inspirasi, menambah kosakata dan referensi sebelum menulis buku  

  • Rencanakan Isi buku

Setelah tahu apa yang ingin Anda tulis. Mulai buat daftar bab atau poin-poin utama buku yang akan dibahas. Bagian ini jadi peta untuk memudahkan Anda saat menulis.

Misalnya, Anda menulis tentang cara menemukan jati diri sebelum usia 25. Maka secara sederhana beberapa bab Anda tuliskan poinnya sebagai berikut:

    1. Bab 1: Jati Diri, Dibentuk atau Dicari?
    2. Bab 2: Bagaimana Memulai Perjalanan Diri?
    3. Bab 3: Cara Mengenali Diri

Dan seterusnya.

Baca Juga: 5 Kesalahan Umum Menulis yang Perlu Dihindari

B. Proses Menulis

  • Menulis Dulu, Editing Kemudian

Salah satu penyakit penulis pemula adalah menulis sambil mengedit. Baru menulis satu dua kalimat, langsung dihapus, diperbaiki. Akhirnya, tulisan tidak pernah selesai. Rumusnya begini: jangan campurkan proses kreatif (menulis) dengan proses analisis (mengedit). Proses kreatif memerlukan kebebasan. Jangan penjarakan ide dan diksi-diksi yang ingin dikeluarkan. Begitu proses kreatif dan analisis Anda lakukan bersama maka yang terjadi adalah kemandekan. Ibarat mesin, proses kreatif serupa pedal gas, sedangkan proses menganalisis seperti remnya. 

Tapi, kalimat saya jelek. Gak enak dibaca. Bukan seperti itu maksudnya. 

Kegelisahan tersebut wajar menghantui penulis. Mari sikapi dengan bijak. 

Menulis itu pasti ada saja celahnya. Tapi, lebih baik selesai lalu diperbaiki saat editing daripada menjadi proyek mangkrak setiap menulis. 

  • Membangun Komitmen Menulis

Menulis tidak seperti membangun candi dalam sehari semalam. Oleh karena itu, bangun habit menulis setiap hari. Jangan tunggu waktu luang. Karena biasanya kita selalu punya alasan untuk menunda menulis. Semua alasan akan terdengar masuk akal. Pada akhirnya, menulis jadi wacana. 

Oleh sebab itu, beri komitmen ke diri sendiri. Pilih waktu yang paling bisa Anda kompromikan. Misalnya, waktu 30 menit di mobil saat perjalanan ke kantor Anda gunakan membuka laptop atau notes untuk menulis. Barangkali, waktu 15 menit sambil menunggu anak-anak siap berangkat ke sekolah. Bebas. 

Dengan komitmen terhadap waktu, Anda telah memasukkan menulis menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari. 

C. Pascamenulis

  • Lakukan Swasunting

Setelah Anda menyelesaikan draf naskah hingga selesai, kini saatnya mengaktifkan mode analisis dengan swasunting. Biasanya, kita akan menemukan apa saja yang kurang di dalam tulisan ketika membaca naskah berulang kali. Tetapi, sebelum melakukan hal tersebut Anda perlu mengendapkan tulisan. Apa itu mengendapkan tulisan?

Sederhananya, ambil jarak sejenak sebelum melakukan editing. Beri waktu 3-7 hari bagi diri untuk refreshing dan berkegiatan lain. Hal itu membantu Anda untuk berpikir lebih objektif serta bukan tidak mungkin mempunyai sudut pandang lain nantinya. 

Di tahap editing ini, secara garis besar ada dua hal yang perlu Anda perhatikan. Satu, editing konten terkait dengan esensi tulisan. Apakah tulisan sudah logis, nyambung, setiap bab koheren, dan lain sebagainya. Kedua, editing ejaan. Perhatikan apakah tulisan sudah sesuai EYD atau belum.   

  • Tanya Pendapat Pembaca atau Editor 

Setelah selesai swasunting, saatnya naskah Anda menemui pembaca pertama. Coba berikan draf naskah Anda kepada teman atau keluarga. Minta feedback mereka. Dengan demikian Anda bisa mendapatkan point of view lain. Masukan tambahan dari pembaca bisa lebih menyempurnakan tulisan Anda.

Baca Juga: Strategi Produktif dalam Menulis

Kesimpulan

Menulis untuk pemula bukan hal yang mustahil, karena semua diawali dari keyakinan diri. Berani ambil langkah pertama untuk menulis dan melanjutkannya jadi naskah siap terbit. 

Setiap penulis hebat dulunya juga seorang pemula yang terus berbenah hingga menghasilkan banyak karya.Jadi, jangan tunggu sampai merasa sempurna, tapi mulai ambil langkah untuk menulis dari sekarang. 

Jika masih merasa bingung dan butuh bimbingan, Anda bisa ikut kelas menulis “Book Writing Camp”. Kelas yang cocok untuk pemula karena belajar dari basic, didampingi bahkan ditarget sehingga Anda  bisa punya naskah siap terbit hanya dalam 2 bulan. Hubungi kami via whatsapp atau kunjungi instagram.